Suku Kamoro, Papua

Suku Kamoro atau yang cenderung diidentifikasi sebagai masyarakat Kamoro merupakan salah satu suku yang tergolong besar dengan jumlah penduduk kira-kira 18.000 jiwa yang tersebar di 59 kampung yang mendiami wilayah pesisir Kabupaten Mimika (Harple, 2000; BPS Timika,2010; Mimika Dalam Angka, 2010). Suku ini disebut suku besar karena memiliki sub suku. Guna mempermudah dalam pengidentifikasian maka dinamakan suku Kamoro. Mata pencaharian utama suku ini adalah berburu dan meramu makanan yang tersedia di alam. Mereka mengambil dari alam tanpa harus bekerja keras untuk menanam. Ikan air tawar, maupun berbagai jenis ikan yang terdapat di air asin serta sagu telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari suku Kamoro. Berkaitan dengan ketersediaan alam yang melimpah itulah yang turut menjadi andil bagi masyarakat Kamoro mengapa masyarakat tersebut sangat mencintai alam dan dekat dengan alam sekitarnya.
Ciri khas dari suku ini adalah kemampuan mereka dalam hal berburu. Bukan itu saja masih banyak hal lainnya yang membuat suku ini terkenal yaitu dari mulai nyanyian daerah, tariannya, ukiran yang mereka buat bahkan sampai dengan topeng-topeng roh.
Bila dilihat dari bahasa yang mereka gunakan terdapat kesamaan dengan Suku Asmat yang tinggal di bagian timur. 
Tanah Kamoro akan terlihat dengan jelas rangkaian bentangan pegunungan dari Papua Tengah hingga mencapai ke daerah pesisir disertai puncak-puncak dari gunung yang tinggi dekat dengan daerah dari Laut Arafura.
Daerah ini merupakan tempat untuk kampung-kampung pesisir. Lalu di bagain batas yang paling atas yaitu daerah dari dampak arus pasang terlihat dengan jelas luasnya lahan yang ditumbuhi dengan deretan pohon-pohon sagu.
Jadi, bagi masyarakat Kamoro tidak perlu khawatir mengenai bahan makanan untuk kebutuhannya sehari-hari. Karena bahan makanan tersebut bisa mereka dapatkan dengan mudah. Hal ini dikarenakan lokasi dari pohon sagu tersebut dekat dengan tempat mereka bermukim. Sedangkan untuk mereka yang tinggal di kampung pesisir, perahu digunakan untuk dapat mengambil pohon sagu. Perahu yang digunakan adalah perahu lesung.

Sagu merupakan bahan makanan yang pokok bagi suku asli Kamoro. Sagu mereka dapatkan dengan cara menebang terlebih dahulu pohon palem  lalu kemudian membelah bagian dari intisari batang pohon tersebut dan yang terakhir melarutkan bagian karbohidrat dari sagu yang murni berasal dari serat-serat selulosa.
Suku asli Kamoro juga merupakan suku yang memakai kegiatan berburu untuk mendapatkan makanan lainnya. Bukan hanya hewan hutan biasa yang mereka buru melainkan juga buaya air tawar, rusa, ikan, burung, kadal bakau dan hewan yang lainnya. Yang terpenting bagi masyarakat suku asli Kamoro, hewan tersebut bisa dikonsumsi dengan baik. Selain itu juga bisa dimakan bagian dagingnya ataupun telurnya.
Untuk kaum wanita, mereka mempunyai tugas yang paling utama yaitu menyiapkan berbagai bahan makanan yang ada. Bahan makanan tersebut harus cukup untuk setiap kali makan. Bukan hanya sagu yang menjadi makanan pokok bagi suku asli Kamoro, mereka juga mencari moluska dan udang untuk dijadikan pelengkap dari sagu tentunya juga sambil mencari kayu bakar untuk memasaknya.
Hal ini dikarenakan kegiatan memasak mereka masih dilakukan dengan cara tradisional. Beragam binatang yang memiliki kulit keras atau disebut dengan krutae mudah untuk ditangkap. Akan tetapi yang paling sering dijadikan sebagai bahan makanan adalah kepiting bakau (keraka). Bukan hanya disantap sendiri tapi juga dijual ke masyarakat yang lainnya.
Memang penduduk asli dari suku ini bukan berprofesi sebagai petani. Padahal sejak ratusan tahun lalu mereka telah dikenalkan dengan berbagai tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan sebagai bahan makanan. Tumbuhan hanya sebagian kecil dari berbagai bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh mereka.
Lalu bila dilihat dari segi budaya, tanah Papua ini menyimpan banyak budaya. Walaupun memang yang lebih dikenal adalah Suku Asmat namun di balik itu ada juga suku lainnya yang mempunyai kebudayaan menarik. Suku Kamoro memang mempunyai kebudayaan yang unik dan menjadikan itu sebagai ciri khas dari suku mereka.

Suku ini sangat menjaga keasrian dari budaya yang berasal dari adat suku mereka. Mereka akan menjaga kebudayaan tersebut dan mewariskannya kepada anak cucu mereka nantinya. Hal ini terlihat dari rumah adat mereka. Rumah adat merupakan tempat yang dipakai oleh anak-anak remaja dan juga anak-anak kecil agar bisa bersikap secara dewasa dan menjaga kelestarian yang ada pada beragam adat kebudayaan yang ada di suku asli Kamoro ini.
Jadi berbagai ilmu mengenai kehidupan bisa juga Anda pelajari dari perjalanan hidup suku-suku di pedalaman yang berjuang untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka dengan berbagai halangan yang datang menghampiri. Salah satunya yaitu Suku Kamoro ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamoro (pedalaman timika papua)